Kendati salatnya sah, jamaah model demikian dihukumi makruh. Sebab, salat jemaah masih lebih utama orang yang sudah baligh yang seharusnya menjadi imam, bukan anak kecil.

Lebih lagi, menurut tiga mazhab lainnya (Hambali, Hanafi, dan Maliki), bermakmum pada anak kecil pada salat fardu dihukumi tidak sah.

Namun, Mazhab Syafii berpendapat diperbolehkannya bermakmum pada anak kecil berlaku untuk semua salat baik salat fardu atau salat sunah, kecuali salat Jumat.

Dalam kitab al-Fiqh ala Madzahib al-Arba’ah dikatakan, "Ulama Syafiiyah berpendapat, 'Orang yang sudah baligh diperbolehkan bermakmum pada anak kecil yang sudah tamyiz dalam salat fardhu, kecuali dalam permasalahan salat Jumat. Maka dalam mengimami salat Jumat ini disyaratkan sudah baligh ketika ia termasuk dalam hitungan 40 orang yang mana salat Jumat menjadi tidak sah tanpa bilangan ini,"

"Ketika jumlah mereka (orang yang melaksanakan salat Jumat) lebih dari 40 maka boleh anak kecil yang telah tamyiz menjadi imam mereka.” (Syekh Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ala Madzahib al-Arba’ah, juz 1, hal. 642). Wallahu a'lam bishawab. (C)