Jika tak diganti di tengah jalan, sangat mungkin ia menjadi Kapolri sampai kepemimpinan Presiden Jokowi berakhir pada 2024. Bahkan, ketika kepemimpinan Presiden Jokowi (yang menjadikannya Kapolri) berakhir, Sigit masih anggota Polri aktif. Ia menjadi Kapolri didahului oleh Idham Azis, sosok yang cuma 14 bulan menjalankan kepemimpinan dengan gaya lugas pragmatis.
Di lain sisi Idham dapat dikatakan sosok “pelanjut” rekan seiringnya semasa di pasukan antiteror Densus 88, jenderal intelektual Prof. M. Tito Karnavian (kini mendagri). Jika Tito menggulir cita-cita mewujudkan Polri yang Promoter (Profesional, Modern, Terpercaya) yang kemudian dimantapkan oleh Idham Azis, giliran Sigit menggulir konsepsi PRESISI untuk Polri dalam menjalankan kepemimpinannya.
Presisi dari segi bahasa adalah kata yang diserap dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, yaitu “precision” yang artinya “kesaksamaan”, “ketelitian” (Echols dan Shadhily, 1993: 442). Presisi dalam bahasa Indonesia diartikan “ketepatan”, “ketelitian” (KBBI, 2002: 895). Sigit menggulir konsep PRESISI untuk memutar sistem untuk kerja-kerja organisasi Polri sebagai kristalisasi dari Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, Berkeadilan.
Baca Juga: Keterlibatan Perempuan dalam Tindak Terorisme di Indonesia
Setidaknya saya melihat presisi tepat dilihat dari arti kata baik dalam bahasa Indonesia maupun “precision” dalam bahasa asalnya. Dengan Demikian presisi hendaklah dimaknai oleh kerja-kerja organisasi dan segenap insan Bhayangkara dari fungsi yang manapun (bukan cuma reserse), sebagaimana nilai yang dikandung oleh prinsip keterbukaan. Keterbukaan itu mengundang tanggung jawab semua pihak, baik di dalam tubuh Polri maupun masyarakat.
