• Presiden SBY (dua kali lima tahun), sampai kepada Joko Widodo sebagai Presiden yang kini memasuki lima tahun kedua masa kekuasaannya, penuh tantangan politik. Hal itu  diperparah oleh beratnya beban perekonomian akibat  serbuan pandemi COVID-19 dengan sejumlah sikap yang berubah-ubah untuk  mengatasinya (juga dialami oleh ratusan negara dan belum diketahui kapan akan berakhir). 

Kini Jenderal Listyo Sigit Prabowo adalah Kapolri yang ke-26. Setiap Kapolri bukan cuma ingin kepemimpinannya berjalan dengan baik tanpa dekil-dekil, bahkan mungkin tanpa koreng yang mencacati.

Meski, fakta menunjukkan hal tersebut mustahil. Sebab, terlalu banyak faktor yang bisa dijelaskan terkait bahwa yang menjadi anggota Polri termasuk para pemimpinnya adalah juga manusia yang harus mampu membedakan “sistem yang mengendalikan Polri atau sebaliknya”.

Belum lagi persoalan kelayakan sistem yang berelasi dengan realitas kehidupan anggota Polri itu sendiri dan masyarakat yang amat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik yang melingkarinya. Selalu ada dominasi kepentingan pribadi-pribadi di eksternal yang memengaruhi, meski terpengaruh atau tidak adalah sangat ditentukan oleh konsistensi berkomitmen pada penegakkan moral, integritas dan profesionalisme  seorang polisi.

Suka tidak suka, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, semua itu terbangun sebagai suatu “legacy” yang pantas dinikmati saja, diteruskan, disempurnakan, atau kah sama sekali dihentikan? Yang pasti bahwa di setiap peralihan kepemimpinan Polri, nyaris tak ada suatu hasil evaluasi yang terpublikasi secara representatif kepada publik.