Di akhir pesannya, Kalam meminta Prabowo menangani persoalan kebakaran hutan secara serius. Ia berharap api segera dipadamkan dan tidak kembali menjadi masalah tahunan bagi Malaysia dan Indonesia. Penanganan yang tuntas, menurutnya, adalah satu-satunya cara agar penderitaan yang sama tidak terus berulang.
Kalam menutup pidatonya dengan harapan kedua negara bisa menikmati langit yang cerah dan udara yang bersih. Ia ingin warga kedua negara bisa bernapas lega dan menjalani hidup yang sehat. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada presiden dan berharap pesannya dapat dipahami dengan baik.
Mengapa pidato ini menjadi perbincangan
Pilihan bahasa Jawa itu bukan sekadar gaya berbicara. Kalam menggunakannya sebagai jembatan agar pesannya sampai tanpa hambatan bahasa. Ia membuka dengan sapaan yang akrab, menanyakan kabar Prabowo dan mendoakan agar presiden selalu sehat. Nada pembuka yang sopan itu kontras dengan isi pesannya yang tegas, sehingga kritiknya terdengar lugas tanpa kehilangan kesantunan.
Kalam juga menekankan sifat tahunan dari masalah ini. Ia meminta agar Malaysia dan Indonesia tidak lagi sama-sama menderita akibat asap pada setiap pergantian tahun. Bagi Kalam, persoalan yang berulang seharusnya tidak lagi diperlakukan sebagai kejadian biasa. Ia menginginkan penyelesaian yang mencegah asap kembali, bukan sekadar respons sesaat ketika kabut sudah terlanjur menyebar.
