Sedihnya lagi, malah ada yang hanya cukup untuk makan pagi, sorenya tak ada lagi. Sehingga tak keliru bila menilai, paradigma kapitalisme itu sendiri lah yang memperlebar jurang kemiskinan dan ketimpangan itu sendiri.
Ditambah lagi dengan jargon sistem ini, ‘yang bermodal maka dialah yang bisa berkuasa’. Alhasil, munculnya sebuah fenomena pilu, yang kaya makin lah kaya, dan yang miskin makin terhimpit. Dan konsekuensinya haru siap jatuh ke lembah kemiskinan.
Semestinya, negara tak hanya setakat menetapkan garis kemiskinan, tetapi juga harus diiringi dengan penyediaan lapangan kerja guna membantu rakyat agar tak jatuh miskin. Karena bagaimana bisa rakyat merogoh pengeluaran, serta meningkatkan daya belinya, sedang uang saja mereka tak punya?
Bagaimana uang diperoleh, sedang minim lapangan kerja? Inilah sederat tanya yang tentu harus dijawab dengan sebuah solusi.
Baca juga: Menyongsong Kepemimpinan 60 Tahun PMII
