Berbeda dengan kondisi hari ini, dimana paham ke-individualitme-an itu cukup tinggi. Setiap orang hanya berlomba memikirkan nasibnya sendiri, enggan peduli pada orang lain. Alhasil, tak segan pula menguasai hajat publik yang di sana banyak bergantung nasib khalayak ramai.
Aktifitas tolong menolong ini bahkan mendapat anjuran dari Nabi SAW, sebagaimana dalam sabdanya berikut ini, “Tidaklah beriman kepadaku, siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu”(HR. Ath-Thabarani).
Terakhir, Allah memerintahkan para penguasa untuk bertindak sebagai ra’in (pelindung) bagi rakyatnya. Layaknya pelindung, penguasa harus mengupayakan, agar rakyat tak jatuh pada kondisi yang sulit lagi membahayakan. “Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggungjawab atas rakyat yang dia urus” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Demikianlah pandangan Islam terhadap problem kemiskinan, semoga kita dapat mengambil pelajaran. Wallahu’alam. (*)
