Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR, M.Ag
Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI
ADA bunyi kecil yang kini lebih sering kita dengar daripada suara hati: "notifikasi". Ia datang tanpa jeda mengabarkan pesan, komentar, angka, dan pengakuan. Sekilas tampak sepele, namun diam-diam ia telah menjadi “ritme baru” kehidupan manusia modern. Kita terbangun olehnya, bergerak bersamanya, dan sering kali menutup hari dengan sisa-sisa kegelisahan yang ia tinggalkan.
Di balik semua itu, ada pertanyaan besar yang jarang kita ajukan: apakah kita masih hidup dengan makna, atau sekadar merespons rangkaian notifikasi tanpa arah?
Manusia hari ini hidup dalam kelimpahan informasi, tetapi kekurangan kedalaman makna. Ia tahu banyak hal, namun tidak selalu tahu untuk apa ia hidup. Ia terhubung dengan banyak orang, tetapi sering merasa asing dengan dirinya sendiri. Dunia digital telah memberi kita kecepatan, tetapi sekaligus mencuri "keheningan" ruang di mana makna biasanya lahir.
