Sedangkan dari sisi pinjaman, tercatat realisasi negatif sebesar Rp 12,3 triliun atau minus 9,2 persen dari target Rp 133,3 triliun.

Angka penerbitan SBN yang mencapai Rp 282,6 triliun pada triwulan pertama 2025 juga mengalami lonjakan signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp 104 triliun.

Sebaliknya, realisasi pinjaman justru lebih rendah dari capaian tahun lalu yang tercatat Rp 1,6 triliun.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa strategi penarikan utang besar di awal tahun atau front loading dilakukan untuk merespons potensi gejolak global.

Salah satu faktor eksternal yang menjadi perhatian pemerintah adalah kebijakan perdagangan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang kembali menerapkan tarif tinggi pada produk dari berbagai negara.