Baca Juga: Inpres Prabowo, 80 Ribu Koperasi Merah Putih Didanai APBD-APBN, Ini Skema Lengkapnya
“Kita melakukan front loading bukan karena kita enggak punya duit, karena kita memang strategi dari issuance kita untuk mengantisipasi ketidakpastian yang pasti akan membuat kenaikan,” kata Sri Mulyani menjelaskan strategi tersebut.
Meski tekanan terhadap APBN terus meningkat, pemerintah tetap mengedepankan kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran negara. Penarikan utang yang cukup agresif di awal tahun ini disebut sebagai langkah antisipatif untuk memastikan kestabilan fiskal di tengah kondisi pasar global yang dinamis dan penuh ketidakpastian.
Dengan realisasi defisit dan pembiayaan yang telah tercatat hingga Maret, pemerintah masih memiliki ruang untuk mengelola sisa target pembiayaan dalam sembilan bulan ke depan. Sri Mulyani menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil telah melalui perhitungan matang dan tetap berada dalam koridor pengelolaan fiskal yang sehat.
Sebagai catatan, total target pembiayaan anggaran pada APBN 2025 sebesar Rp 616,2 triliun mengalami peningkatan dari target tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 522,8 triliun. Peningkatan target ini sejalan dengan kebijakan belanja yang dirancang untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional serta menjaga daya beli masyarakat. (C)
