Dengan capaian tersebut, Telegram masuk dalam jajaran platform terpopuler. Aplikasi pertukaran pesan itu bisa bersanding dengan Facebook, Youtube, WhatsApp, Instagram, Titok, hingga Wechat.
Jumlah pengguna Telegram memang masih tertinggal dari WhatsApp. Sebab pengguna aktif bulanannya per 2023, mencapai 2 miliar pengguna.
Sementara itu, Durov juga menyinggung sejumlah negara menekannya untuk membatasi pertukaran informasi tertentu. Namun dia menegaskan platformnya bakal tetap netral dan tidak terlibat pada konflik geopolitik.
Telegram jadi salah satu sumber informasi yang tidak menyaring konten saat perang Rusia dan Ukraina pecah tahun 2022 lalu. Meski dinilai transparan, namun juga banyak konten disinformasi yang beredar.
Sistem enkripsi Telegram, dia menjelaskan membuat pesan yang dikirimkan tetap aman. Termasuk aman dari intervensi pemerintah. "Saya lebih baik bebas ketimbang tunduk pada perintah siapa pun," ujarnya.
