Jika kita menggunakan data yang dilakukan oleh survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang disampaikan pada Kamis 24 Maret 2022 melalui kanal Youtube SMRC TV bahwa orang-orang yang tinggal di desa, yang tidak setuju dengan penundaan pemilu sebanyak 83 persen, sementara yang tinggal di kota sebesar 82 persen (monitor.co.id, 25 Maret 2022).

Penguraian hasil survei dapat kita tutup dengan kembali kepada hasil survei dari LSI Denny JA yang mengungkapkan tentang wacana penundaaan Pemilu 2024 dan wacana penambahan periode jabatan presiden yang menghasilkan dua gambaran kategorinya sebagai berikut: kategori rata-rata nasional penentang penundaan pemilu sebear 68,5 persen, sedangkan kategori rata-rata nasional penentang presiden tiga periode sebear 70,3 persen.

Berdasarkan realitas dan fakta tersebut, sudah semestinya memang kita patut mengapresiasi sikap dan pernyataan yang tegas dari Puan Maharani yang menolak wacana penundaan Pemilu 2024. Sikap Puan yang sedang melakukan ‘kegenitan’ politik untuk menaikan popularitas dan mendongkrak elektabilitasnya sebagai bakal calon presiden (capres) dari PDI Perjuangan, patut diakui saat ini Puan cerdas memanfaatkan peluang dan momentum.

Puan telah menjadi corong terdepan bagi para penolak usulan tersebut, sehingga memungkinkan ia mendapatkan simpati dari berbagai pihak, terutama para aktivis dan penggiat demokrasi (ruangpolitik, 24 Maret 2022).

Sekali lagi ditegaskan, ini adalah strategi cerdas dari Puan, strategi untuk meningkatkan elektabilitasnya. Suatu momen yang tepat bagi Puan dengan berharap sikap dan pernyataannya yang berseberangan dengan istana dapat terjadinya limpahan elektoral yang luar biasa bagi dirinya. (*)