"Itu juga tidak penting. Saya himbau Suwandi Andi tidak usah terlalu menggiring bahwa DPD PAN di kepulauan harus berangkat ke Makassar untuk mendukung salah satu calon. Tetap di tempat saja tidak perlu menggerakkan seperti itu. Harusnya jadi tuan rumah yang baik sehingga calon yang dipilih nanti benar-benar dari hasil demokrasi," imbau mantan Bupati Buton itu.

Lanjutnya, dalam pemilihan Ketua Umum PAN, jangan selalu melihat pada sosok karakter kepemimpinan. Tetapi, yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana manajemen yang dibangun oleh ketua umum dalam membangun partai.

Dalam tradisi PAN, Umar Samiun menjelaskan sejak kongres ke-I tahun 1998 melahirkan Amien Rais. Tahun 2005 kongres ke-II terpilih Soetrisno Bachir. Tahun 2010 Kongres ke-III terpilih Hatta Rajasa secara aklamasi. Dan terakhir Kongres IV melahirkan Zulkifli Hasan sebagai Ketua Umum.

"Saya sebenarnya mashaf 1 periode untuk ketua umum itu maklum di PAN. Itu dilakukan untuk menajamkan manajemen dalam tubuh partai bukan pada karakter kepemimpinan. Itulah ciri khas di tubuh PAN," urainya.

Umar Samiun dalam kesempatan itu juga mengimbau kepada Abdul Rahman Shaleh dan Suwandi Andi untuk tidak memberikan komentar yang bisa memperkeruh pelaksanaan kongres. Sebagai mantan Ketua DPW PAN Sultra yang saat ini tidak bersinggungan dengan pelaksanaan kongres, Umar Samiun  berharap kegiatan 5 tahunan itu bisa berjalan sukses.