Hilmi yang saat itu masih menjadi mahasiswa, sementara sang suami bekerja sebagai manajer di bidang kuliner. Sebagai orang yang berpengalaman di bidang kuliner, Ahmad melihat potensi yang besar dari usaha kecil-kecilan istrinya tersebut. Ahmad pun berinisiatif untuk membantu mengembangkan usaha Hilmi, dimulai dengan merancang konsep “buah segar dan langka” hingga memfinalkan “Asinan Myesha” sebagai nama gerai dan produk mereka.
Hingga akhirnya Febuari 2020, Ahmad memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan fokus membantu sang istri berjualan. Mereka memulai usaha tersebut tanpa mengandalkan utang dengan membeli sebuah warung mini di kawasan Eks MTQ seharga Rp 1,5 juta.
Baca Juga: Hadirkan Penenun Buton, Produk UMKM Baubau Laku Keras di Pameran Harmoni Sulawesi Tenggara
Warung mini yang terbuat dari rangka baja ringan dan spandek itu mereka renovasi dengan biaya Rp 4 juta. Selain berjualan di warung mini, mereka juga membuka usaha di rumah pribadi mereka.
"Kami memulai usaha ini dari nol betul. Waktu itu belum ada kurir, Gojek pun tergolong baru masuk di sini. Jadi saya mengantar sendiri pesanan yang memang sudah kami pasarkan secara online. Jadi kita rasakan betul bagaimana membangun usaha,” ujar Ahmad,
