Dari tiga kamar yang terdapat di dalam asrama, saat kunjungan hanya satu kamar yang terlihat dihuni. Kamar tersebut ditempati seorang atlet senior bersama keluarga kecilnya. Sementara beberapa bagian lainnya tampak lebih sepi dibandingkan kondisi sebelumnya.

Peralatan latihan juga tidak lagi sebanyak sebelumnya. Untuk perahu yang masih digunakan latihan, tersisa sekitar dua unit. Beberapa perahu lainnya masih terlihat berjejer di sekitar lokasi, tetapi sudah tidak digunakan.

Intensitas latihan para atlet dayung juga disebut mengalami penurunan. Kondisi ini terlihat dari aktivitas di kawasan asrama yang tidak seramai sebelumnya.

Tak hanya bangunan utama, fasilitas pendukung seperti tribun juga terlihat memprihatinkan. Sejumlah bagian lantai tampak berlubang dan lapuk, sementara kondisi tribun yang nyaris roboh dikhawatirkan dapat membahayakan atlet maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi.

Padahal, lokasi asrama berada dekat dengan perairan yang selama ini menjadi area latihan utama atlet dayung. Dari bangunan tersebut, aktivitas latihan dapat dilakukan dengan akses yang relatif dekat menuju perairan.