"Hanya kita tidak tahu, apakah ini lewat APBD atau pribadi petani yang menanggung 20 persennya, karena tidak clear datanya ini," tambahnya.
Untuk memastikan keberhasilan program ini, lanjut Rusdin, diperlukan dukungan dari pemerintah daerah. Karena dengan adanya asuransi ini, petani yang mengalami gagal panen akibat bencana dapat memperoleh modal kembali sebesar Rp 6 juta untuk menanam lagi tanpa harus menunggu bantuan benih dari pemerintah pusat.
Mengingat, beber Rusdin, dengan kondisi cuaca yang lagi tidak menentu, dimana posisi saat ini di tahun 2024 ini sampai dengan bulan Mei kemarin terdapat 3.726,02 hektare lahan yang terkena banjir.
"Ini menyebar di beberapa kawasan kabupaten/kota. Dari yang terkena dampak banjir ini, yang benar-benar gagal panen itu adalah sekitar 772,27 hektare," ungkapnya.
Lanjut Rusdin, jika dikonversi dengan produksi per hektare itu kurang lebih 4 ton, maka produksi padi di Sulawesi Tenggara kehilangan kurang lebih 3.089 ton, itu di posisi Mei.
