Sementara itu, berdasarkan penelitian mahasiswa antropologi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam mengajarkan bahasa daerah pada anak-anaknya.

Hasil penelitian, penyebab memudarnya penggunaan bahasa Tolaki oleh remaja. Pertama, faktor luar dan dalam meliputi keluarga, sekolah, dan teman sepermainan. Kedua, mereka tidak diajarkan bahasa daerah sejak dini.

“Kenapa orang hidup di transmigran, tapi bahasa Jawanya hilang. Orang hidup di komunitas Tolaki, kenapa bahasa Tolakinya hilang? Itukan sesuatu yang aneh. Karena ada sesuatu yang lepas. Di dunia pendidikannya pakai bahasa lokal, tapi di lingkungan keluarga tidak dipakai bahasa lokal. Dia selalu pakai bahasa Indonesia, gengsi, itu problemnya,” demikian penjelasan Dosen Antropologi UHO Kendari, Abdu Jalil.

Tambahnya, semua lintas pendidikan itu sebaikanya menggunakan bahasa wajib (daerah). Seperti di Yogyakarta, setiap Rabu atau Jumat menggunakan bahasa daerah Jogja (bahasa Jawa halus). Menurutnya, Kurikulum muatan lokal di Kota Kendari sebaiknya mewakili semua, tidak hanya pada satu bahasa daerah saja, karena masyarakat Kendari adalah masyarakat multi etnis. (A)

Penulis: Apriadi Mayoro