Khusus Fakultas Farmasi UHO, Arba menyebut fakultas yang berdiri pada 2014 tersebut telah mencatatkan tiga capaian akreditasi berperingkat Unggul. Sementara itu, proposal pembukaan Program Doktor Farmasi disebut masih dalam tahap evaluasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Meski mencatatkan capaian tersebut, ia menilai pembenahan tata kelola masih diperlukan. Sistem administrasi, menurutnya, perlu dibuat lebih efisien, cepat, dan terdigitalisasi untuk mengurangi proses manual.
Pada bidang penelitian, Arba mendorong pemanfaatan keanekaragaman hayati Sulawesi Tenggara sebagai salah satu fokus pengembangan. Potensi bahan alam dari wilayah darat, termasuk tumbuhan, serta sumber daya laut dapat dikaji untuk mendukung pengembangan ilmu farmasi.
Ia menilai fakultas perlu mengambil peran dalam mengoordinasikan penelitian berbasis potensi lokal. Dengan demikian, pengembangan riset tidak hanya bergantung pada inisiatif masing-masing dosen, tetapi memiliki arah kelembagaan yang lebih jelas.
Dalam pencalonannya, Arba mengusung visi “Transformasi Fakultas Farmasi UHO Menuju Fakultas yang Kompetitif, Adaptif, dan Berdampak Melalui Penguatan Tata Kelola, Riset, dan Reputasi Global”.
