"Agroekologi ini dimaknai sebagai suatu cara bertani yang mengintegrasikan secara komprehensif aspek lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat, kita mengedepankan keuntungan ekonomi dan konservasi lingkungan secara berkelanjutan," kata Hugua dalam wawancaranya, Selasa (14/5/2024).
Menurut Hugua, agroekologi memiliki kemampuan menghasilkan produksi pertanian lebih tinggi dibanding pola pertanian konvensional. Namun sosialisasinya tidak mudah karena masyarakat saat ini sudah terlanjur nyaman dengan penggunaan pestisida.
Oleh karena itu, lanjut Hugua, LSM Sintesa melibatkan mahasiswa pertanian sebagai calon petani modern sebagai pilot project dalam menyukseskan penerapan agroekologi dalam sistem pertanian di Sulawesi Tenggara.
Baca Juga: BKKBN Sultra Hadiri Rakornis Jakarta Optimalkan Program Bangga Kencana dan Penurunan Stunting
"Sudah banyak hasil riset tentang agroekologi ini, hasilnya ternyata luar biasa, dengan pola agroekologi tanaman padi bisa menghasilkan sampai 13 ton (per hektare). Ini adalah masa depan pertanian Sultra yang harus kita garap secara serius," jelas Hugua.
