Baca juga: Dagelan Politik PDI Perjuangan
Substansi ‘culture change’ ke dalam Polri sendiri, baik institusional maupun personal, adalah agar bisa lebih bersikap melayani dengan humanis. Pelayanan semacam ini, tidak mungkin dilakukan oleh sosok yang tidak membiasakan diri melayani dengan humanis di internal sendiri.
Sapaan ‘Bang’ dari seorang dengan pangkat dan jabatan lebih tinggi namun lebih junior kepada senior yang menjadi bawahannya, adalah bentuk ‘hirau’ akan hubungan yang memanusiakan. Ada psikologis pada relasi sosial dalam lingkup terbatas masyarakat Polri itu sendiri.
Bila dibungkus menjadi polisi dengan segala kewenangan, fungsi, dan tugasnya dalam kehidupan yang demokratis, tak terelakkan lagi bahwa ke dalam Polri sendiri harus lebih dahulu demokratis. Maka, sengaja saya menggunakan pendemokrasian polisi untuk dapat dilaksanakannya pemolisian demokratik (democratic policing).
Dalam demokrasi dipersyaratkan secara utama adanya kebebasan (meski bukan segala-galanya), termasuk kebebasan orang di sekitarnya untuk didengarkan. Bukan hanya menjadi pendengar. Maka, sapaan ‘Bang’ menjadi lebih konkret dengan adanya kemauan atasan –meski ia lebih junior-- untuk cerdas mendengar. “…bila seseorang merasa didengar, maka orang tersebut merasa dihargai harkat kemanusiaannya. Sebagai timbal balik, kita pun akan diperlakukan sama oleh orang itu…,” tulis psikolog Unpad, Sawitri (2005: 17). Indah!
