‘Bang’, dengan demikian, dapat dipahami selain sebagai pemberian penghargaan kepada yang lebih senior, juga keakraban tanpa menegasikan hubungan yang hirarkis dalam sebuah organisasi yang masih menganut ‘satu komando’.
Pengembangan ‘Bang’ menjadi pas ketika dihadapkan pada realitas hubungan junior - senior. Apalagi, secara kelembagaan, di struktur Polri sudah mencerminkan adanya unit-unit ‘think tank’, selain pengelola dan eksekutor.
Bertabur pula SDM berpendidikan S1, S2, S3. Bahkan, kini setidaknya sudah lima profesor polisi aktif. Polisi bergelar S1 dan S2 sudah gampang ditemukan di Polsek-polsek, bahkan Bhabinkamtibmas.
Menjalankan kepemimpinan, khususnya Kapolri dan pemangku jabatan-jabatan puncak lainnya, baik di pusat Polri maupun di Polda-polda, hendaklah dimaknai membuka ruang pengakuan bagi SDM yang terberdayakan dan tercerahkan.
Polisi sangar berpistol atau bedil, sudah waktunya bersalin wajah humanis dan dialogis, tanpa harus kehilangan tegas.Teknologi tinggi yang berciri khas serba cepat, tak pula mesti meniadakan relasi kemanusiaan dalam pelayanan masyarakat. (*)
