Secara bahasa, bangka mbule-mbule berasal dari kata bangka, yang artinya perahu, dan mbule yang artinya pulang, sehingga dapat berarti perahu untuk pulang, atau perahu yang pulang. Arti ini sesuai dengan tujuan dilakukannya tradisi tersebut, yaitu untuk memulangkan roh-roh jahat ke laut.

Dilansir dari Wikipedia.org, masyarakat mempercayai bahwa terdapat roh-roh jahat yang dapat mencelakakan manusia dan untuk menghindari hal tersebut perlu diadakan sebuah acara adat yang dapat memberikan suasana damai dan tenang.

Sehingga diadakanlah tradisi bangka mbule-mbule yang biasanya dilaksanakan pada bulan ke-7 pada saat masyarakat panen padi. Pemilihan bulan ke-7 tersebut juga dikarenakan masyarakat dan tokoh adat (Syara) sekitar percaya bahwa pada bulan tersebut adalah waktu yang baik dalam memberi sedekah kepada alam dan roh-roh yang yang menggangggu masyarakat sekitar.

Baca Juga: Sepenggal Surga Keindahan Desa Wisata Kulati Kabupaten Wakatobi

Awalnya tradisi bangka mbule-mbule merupakan ritual tradisional masyarakat Mandati Selatan, Kecamatan Wangi-Wangi, yang dilakukan sekali dalam setahun atau dalam empat tahun sekali jika ada bencana alam, gagal panen, ketidakstabilan, dan gangguan lain.