Pembangunan yang berwawasan lingkungan merupakan upaya sadar berencana dan berkelanjutan dengan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia secara bijaksana untuk meningkatkan mutu hidup. Pembangunan berwawasan lingkungan juga menyelaraskan antara aktivitas manusia dan kemampuan sumber daya alam yang menopangnya.

Pembangunan yang berwawasan lingkungan memiliki ciri-ciri seperti adanya saling keterkaitan beberapa sektor, antara lain lingkungan dan masyarakat serta kemanfaatan dalam pembangunan. Pembangunan akan selalu berkaitan dan saling berinteraksi dengan lingkungan hidup. Namun, yang perlu mendapat perhatian apakah interaksi tersebut bersifat positif atau negatif. Bila interaksinya positif tentu itulah yang diharapkan. Tapi jika interaksinya negatif akan membawa masalah.

Interaksi negatif ini pernah dikritik oleh mendiang Perdana Menteri India, Rajiv Ghandi, mengatakan: “Dengan alasan menanam lebih banyak bahan makanan dan memperoleh kenikmatan lebih banyak, kita telah menggunduli hutan, mencemari sungai dan laut, memanasi bumi dengan akumulasi karbon dioksida, bahkan membocori lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi yang merusak. Dampak degradasi ekologis pada negara-negara berkembang lebih mendasar daripada negara maju.”  

Praktik pembangunan yang terlalu agresif tak dapat dipungkiri akan menghasilkan dampak lingkungan yang tidak kecil, yaitu terjadinya polusi dengan skala besar dalam tiga unsur: udara, air, dan tanah. Polusi ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan hidup.  

Pembangunan tanpa visi ekologis semacam itu akan menyulut krisis biodiversitas yang merupakan aset berharga suatu bangsa. Pada sisi lain, krisis iklim yang merupakan fenomena global juga menimbulkan efek serius. Akibat naiknya permukaan laut dan terjadi penurunan muka tanah secara drastis.