Pemerintah sering berkilah bahwa eksploitasi tambang dan sumber daya alam adalah tulang punggung pembangunan dan penerimaan negara. Namun narasi ini cacat secara logika dan empiris. Apa gunanya pertumbuhan ekonomi jika hasilnya tidak merata, dan sebagian besar masyarakat justru menjadi korban dari model pembangunan itu sendiri?
Setiap bencana ekologis membawa dampak ekonomi yang luar biasa: kerusakan infrastruktur, kehilangan mata pencaharian, biaya evakuasi dan pemulihan, hingga trauma psikologis masyarakat. Semua ini jarang dihitung sebagai "biaya pembangunan", padahal faktanya merupakan biaya eksternal yang sesungguhnya.
Belum lagi jika kita bicara kerusakan jangka panjang: penurunan kualitas tanah, pencemaran air, hilangnya biodiversitas, hingga krisis iklim yang memperparah frekuensi dan intensitas bencana.
Apakah Negara Bersedia Berhenti Meninggalkan Rakyatnya?
Kita butuh pergeseran paradigma dari “pembangunan berbasis eksploitasi” menuju “keadilan ekologis”—yakni sebuah model pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan kolektif.
