“Sepulang sekolah saya naik angkot ke Kendari mencari barang bekas seperti ini. Orang tuaku juga kerjanya memulung,” ucap Ade.

Ade berasal dari keluarga pemulung. Ayah dan ibunya mendapatkan penghasilan dari memulung. Di tempat yang berbeda, Ade juga ikut memulung untuk membantu biaya sekolah, karena penghasilan orang tuanya tidak mencukupi.

Hasil dari memulung tidak langsung menghasilkan uang pada hari itu, melainkan setelah seminggu pengumpulan, barulah ditimbang dan dijual.

“Saya tidak setiap hari mendapatkan uang, tapi ini dikumpul dulu. Setelah 1 minggu baru bisa ditimbang,” lanjut Ade.

Salah satu warga Kota Kendari, Inaya, mengaku prihatin melihat anak-anak harus bekerja membantu orang tuanya mencari nafkah.