
Ia juga menambahkan, salah satu penyebab angka tersebut tak terlalu turun, karena dampak El Nino yang menyebabkan lahan sawah kering dan berimbas pada naiknya harga beras serta kenaikan harga bahan bakar.
Kepala Bappeda Sulawesi Tenggara tersebut juga menceritakan, inflasi berkorelasi dengan angka kemiskinan ekstrem yang mana pada tahun 2022 tercatat 2,54 persen kemiskinan ekstrem di Sulawesi Tenggara. Angka tersebut lebih tinggi dari pada angka kemiskinan ekstrem nasional sekira 2,04 persen.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Bappeda Sulawesi Tenggara telah melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan mengadakan rapat koordinasi percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem di Sulawesi Tenggara 2023.
Kegiatan tersebut ini dibuka oleh Sekretaris Bappeda, Wa Ode Muslihatun yang dalam penyampaiannya, pengentasan kemiskinan ekstrem menjadi salah satu tujuan pembangunan Indonesia, termasuk dalam target dari Bappeda sendiri.
