Selain itu, kondisi infrastruktur yang kurang optimal, seperti ruang kelas dan asrama yang tidak layak, serta minimnya akses terhadap fasilitas air bersih, menjadi tantangan besar bagi Bapelkes.
Mutalib menyadari perlunya melakukan evaluasi dan perubahan menyeluruh terhadap infrastruktur dan sistem kerja di Bapelkes.
“Perubahan ini dimulai dengan evaluasi terhadap infrastruktur, termasuk ruang kelas, asrama, dan fasilitas air bersih. Kami juga memperbaiki lingkungan untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi peserta pelatihan dan staf,” jelasnya.
Bapelkes juga memperkenalkan perubahan budaya kerja dengan mengadakan apel pagi dan pertemuan rutin guna meningkatkan motivasi serta produktivitas pegawai.
Upaya yang dilakukan oleh Mutalib dan tim Bapelkes mulai membuahkan hasil yang signifikan. Kepercayaan mitra semakin meningkat, yang berimbas pada lonjakan pendapatan daerah yang semula Rp 200 juta per tahun, kini mencapai Rp 700-800 juta.
