Asridah menilai masalah gizi di Indonesia masih kompleks. Ia menyebut salah satunya stunting, yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan pola asuh yang tidak tepat.
“Melalui pelatihan ini, tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan pendampingan yang tepat kepada para ibu agar praktik menyusui berjalan optimal,” harap Asridah.
Ia menjelaskan, kebijakan pembangunan kesehatan dalam RPJMN 2020-2024 menekankan penguatan pelayanan kesehatan dasar (primary health care) dan peningkatan upaya promotif serta preventif.
Dalam konteks itu, kata Asridah, konseling menyusui menjadi langkah strategis yang sejalan dengan kebijakan nasional dan komitmen global terhadap peningkatan gizi anak.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi pemberian ASI eksklusif di Indonesia mengalami penurunan dari 64,5 persen pada 2018 menjadi 52,5 persen pada 2021. Angka tersebut masih jauh dari target pemerintah sebesar 80 persen.
