KENDARI, TELISIK.ID — Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sulawesi Tenggara masih sering tenggelam di balik stigma sosial.
Banyak di antara mereka yang memilih diam karena dianggap aib keluarga atau urusan rumah tangga yang tidak pantas dibicarakan di ruang publik. Sementara di balik diam para korban, banyak yang membutuhkan pertolongan medis dan psikologis.
Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Sulawesi Tenggara bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buton Utara menjalin kerja sama untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak terulang.
Bapelkes Sultra dan Dinkes Buton Utara kemudian mengadakan pelatihan bagi tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan bagi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak (KtP/A) serta tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
