Tiga aspek yang menjadi fokus kegiatan itu seperti Key sector pertumbuhan ekonomi kasulampua (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua), pertumbuhan ekonomi dan inklusivitas, kemiskinan dan ketimpangan. Kalimantan memiliki pertambangan dan penggalian sebesar 37,97 persen, industri pengolahan 14,22 persen, dan ekspor luar negeri 53,28 persen.
Sulawesi memiliki pertambangan dan penggalian sebesar 22,03 persen, industri pengolahan 18,31 persen, dan ekspor luar negeri 32,39 persen. Sedangkan Maluku memiliki pertambangan dan penggalian sebesar 18,81 persen, industri pengolahan 18,29 persen, dan ekspor luar negeri 100,31 persen. Dan Papua memiliki pertambangan dan penggalian sebesar 26,84 persen, industri pengolahan 18,25 persen, dan ekspor luar negeri 37,59 persen.
Sementara itu, Plh Sekda Sulawesi Tenggara, Suharno menyebut ada sinergi antara masing-masing provinsi dalam meningkatkan sektor ekonomi dengan sumberdaya alam yang tersedia di masing-masing provinsi terutama daerah kasilampua.
Selain itu sektor pariwisata kasilampua juga perlu ditingkatkan untuk meningkatkan optimalisasi pertumbuhan ekonomi di antaranya Labuan Cermin dan Pulau Derawan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara, Desa Wisata Tana Toraja di Sulawesi Selatan, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Raja Ampat di Papua Barat Daya, dan sebagainya.
Ketua DPRD Sulawesi Tenggara, Abdurrahman Shaleh juga berharap kegiatan itu bisa mendorong ekonomi berkelanjutan dan meningkatkan produktivitas struktur ekonomi.
