Masjid tua itu kini sudah dibangun secara gotong royong. Bentuk dan arsitekturnya menyerupai Masjid Agung Keraton Buton dengan ketebalan dinding 30 Cm diduga terbuat dari batu kapur. Masjid tersebut memiliki luas 7×9 m dengan tiga buah pintu dan dua buah jendela dan bisa menampung sekitar 100 jamaah.
Sebenarnya masjid itu memiliki tiga buah jendela, namun dinding di bagian imam sudah tidak ada dan saat direhab tidak dibuatkan jendela.
Menurut Muadzin Masjid Jila Ul Qulub, Fadli Syahadat, arti dari nama masjid tersebut adalah kendaraan secepat cahaya yang menamakan masjid tersebut adalah para leluhur terdahulu. Ia juga menuturkan, diduga masjid itu dibangun pada masa Sultan Buton Ke-7 yakni Sultan La Saparigau.
Untuk perangkat masjid terdiri dari 1 orang imam, 2 orang khatib, 6 orang moji, 2 orang tungguna ganda (pemukul bedug).
Ia juga menceritakan hal-hal mistis yang terjadi di masjid tersebut, hal itu sering terjadi, ia sering melihat penampakan para leluhur sedang melaksanakan salat, terkadang hanya bertiga tetapi saat ia balik seperti kelihatan ramai dan mereka memakai surban kuning dengan baju jubah selalu di mihrab itu naik dan terdengar juga jejak kaki serta ucapan salam
