Sehingga bisa dibayangkan besarnya dampak yang dirasakan akibat peperangan kedua negara ini. Sinyal resesi menurut Nasrul sudah dirasakan sejak tahun 2022 ini, dapat dilihat dari beberapa negara yang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Argentina salah satunya, mengalami hiper inflasi yang mencapai 100 persen juga hutang negaranya membengkak hingga 515 Ribu Triliun. Negara maju seperti Cina yang pertumbuhan ekonominya hanya 0,4 persen di tahun ini, lebih rendah dari tahun sebelumnya 4,8 persen. Negara-negara Uni Eropa pertumbuhan ekonominya melambat diangka 4,1 persen di kuartal II 2022, terendah dibanding tiga kuartal sebelumnya.
Di Indonesia sendiri juga mengalami hal yang sama, ciri resesi sudah dirasakan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, saat ini nilai rupiah jatuh diangka Rp 15.472, lebih tinggi dibanding September lalu yang hanya Rp 14.943.
Nasrul menerangkan, dampak terpahit yang akan dirasakan akibat resesi nanti adalah, melemahnya mata uang rupiah akan meningkatkan biaya impor yang berakibat naiknya tingkat inflasi dan daya beli masyarakat semakin melemah.
Tingkat inflasi yang terlalu tinggi akan membuat banyak perusahaan melakukan efisiensi produksi, salah satunya dengan mengurangi jumlah tenaga kerja, hal ini tentu akan meningkatkan jumlah pengangguran dan menjadikan kemiskinan semakin merajalela.
