Gangguan ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa banyak organisasi tidak siap untuk menerapkan rencana darurat ketika sistem TI atau perangkat lunak mereka mengalami kerusakan. Namun, para ahli percaya bahwa gangguan semacam ini akan terus terjadi hingga lebih banyak kontingensi dibangun ke dalam jaringan dan organisasi memperkenalkan sistem cadangan yang lebih baik.

Gangguan ini dipastikan bukan serangan siber jahat, namun Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS mengamati peretas yang memanfaatkan situasi untuk melakukan aktivitas phishing dan kejahatan lainnya.

Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) melaporkan adanya penundaan dalam pemrosesan dan bekerja untuk mengurangi dampaknya terhadap perdagangan dan perjalanan internasional. Kementerian Luar Negeri Belanda dan Uni Emirat Arab juga melaporkan gangguan.

Indeks utama Wall Street jatuh pada hari Jumat, memperdalam penjualan yang dipicu oleh saham teknologi. Indeks Volatilitas Cboe mencapai level tertinggi sejak awal Mei, dan dolar naik karena gangguan siber global mengguncang investor. Ribuan penerbangan dibatalkan akibat gangguan ini.

Dari lebih dari 110.000 penerbangan komersial yang dijadwalkan, 5.000 dibatalkan secara global dengan lebih banyak yang diharapkan. Delta Air Lines adalah salah satu yang paling terpukul dengan 20% penerbangannya dibatalkan. Bandara dari Los Angeles hingga Singapura, Amsterdam, dan Berlin melaporkan maskapai penerbangan menggunakan boarding pass yang ditulis tangan, menyebabkan penundaan lebih lanjut.