Di lantai lima ada ruangan sudah tidak lagi sama dengan lantai-lantai di bawahnya. Pada lantai sebelumnya, gedung terdiri atas dua bentuk. Persegi dan bundar. Di lantai lima ini, gedung berbentuk persegi tidak ada lagi. Tersisa hanya gedung yang bundar. Ada ruang baca yang disiapkan. Di lantai ini dilengkapi pula dengan layanan naskah kuno dan layanan audio visual/multimedia, dan sebuah ruang executive lounge.

Kepala Dinas Cipta Karya Bina Konstruksi dan Tata Ruang Sultra, Pahri Yamsul mengatakan, anggaran yang digunakan itu sekira Rp 28 miliar dan tahap kedua Rp 68 miliar, sedangkan pada tahap finishing ini hanya sekira Rp 1,3 miliar.

Lebih lanjut, ia menambahkan, untuk pengelolaan perpustakaan tersebut pihaknya sudah melakukan studi banding ke perpustakaan di salah satu universitas ternama di dunia, yakni Harvard University. Sementara untuk konsep gedung dan infrastrukturnya, langsung dari buah pemikiran Gubernur Sultra, Ali Mazi.

“Jadi kita lakukan studi banding ke Amerika untuk melihat bagaimana pengelolaan perpustakaan. Sedangkan konsep gedungnya tidak mengambil di mana-mana, ini ide langsung dari Pak Gub. Kenapa gedungnya bulat, itu karena lingkaran itu tidak ada ujungnya. Nah, itu punya falsafah bahwa ilmu itu tidak boleh berhenti, terus belajar, sampai tua sekalipun terus belajar. Jadi falsafahnya begitu, lingkaran berputar, sampai kapan pun harus belajar,” kata Pahri kepada Telisik.id, Senin (8/11/2021).

Baca Juga: Kekurangan Fasilitas, Eks Kantor Dispora Sultra Dialihfungsikan Jadi Asrama Atlet