"Bukannya belajar, tapi justru banyak yang bermain game, bermalas-malasan, bahkan ada juga yang sama sekali tidak peduli lagi dengan sekolah atau kampusnya. Tugas-tugas anak sekolah padat, akhirnya dibantu oleh orang tuanya sendiri," ujar akhyar.

Meskipun begitu, ada juga mahasiswa atau siswa yang memanfaatkan waktunya untuk membantu orang tua berdagang, berkebun, dan bersawah, serta ada pula yang membuka usaha online, berdagang, dan bertani.

Meski ada hal positifnya, namun Akhyar lebih melihat kepada sisi negatifnya. Menurutnya, pembelajaran online ini jika dibiarkan terus menerus bisa membuat makin merosotnya pendidikan di negara ini.

"Dikhawatirkan rasa nasionalisme dan kualitas pendidikan kita akan semakin sulit melahirkan generasi-generasi unggul di daerah," katanya.

Seharusnya, generasi muda ini banyak dilakukan pembinaan dan pemantapan, mulai dari leadership, kompetensi bakat, dan minat masing-masing serta kemandirian dan akhlakul karimah.