Penafsiran semacam ini dipilih oleh Ibnu ‘Abbas, Qotadah, Muqotil, Al Faro’, Tsa’lab, Az Zujaj, Ibnu Qutaibah, dan Ibnul ‘Ambari. (Lihat Zaadul Masiir, 1/39, Mawqi’ At Tafasir).

Baca Juga: Manusia Terbagi Menjadi Dua Golongan di Hari Kiamat Kelak, Ini Penjelasannya

Asy Syaukani memberikan penjelasan sedikit berbeda. Beliau rahimahullah mengatakan, yang dimaksud "dulu kalian dalam keadaan mati" adalah waktu sebelum dicipta (belum ada). Karena boleh saja kita mengatakan mati pada sesuatu yang belum ada karena sama-sama tidak memiliki indera.

Kemudian yang dimaksud "kalian lalu dihidupkan" adalah ketika diciptakan menjadi makhluk. Selanjutnya yang dimaksud "kalian dimatikan kedua kalinya" adalah ketika ajal datang (dan dimasukkan ke dalam kubur).

Lalu yang dimaksudkan "kalian dihidupkan kedua kalianya" adalah ketika hari kiamat saat dibangkitkan. Yang menafsirkan seperti ini adalah mayoritas sahabat dan ulama setelahnya.