Juru Bicara Benteng Tindoi, Laode Manimuhdar mengatakan, banyak hal-hal yang menjadikan benteng ini keramat. Dimana suatu ketika adanya pelaksanaan jalur jalan yang awalnya dibuat 3 meter, namun setelah kembali diukur keesokan harinya berubah menjadi 1,5 meter.
"Ada lagi cerita pembuat gapura benteng ini, yang meninggal sebelum diselesaikan pembuatannya. Karena inilah yang menjadikan orang sedikit agak takut ketika masuk di sana, sehingga harus memakai aturan-aturan khusus sesuai dengan tata cara termaksud jangan pakai baju merah," katanya.
Selain itu, ia menambahkan, suatu ketika ada seoarang peneliti yang sempat datang untuk meneliti batu di benteng tersebut. Konon ada satu batu yang dinyakini bahwa batu itu dulunya sebagai tempat orang memuja meminta Tuhan dan duduk di batu tersebut.
Namun pada saat dirinya pergi meneliti, dia tidak dapat menemukan tempat itu bahkan tersesat salama 2 jam.
"Dahulu ada pengunjung yang tidak menyadari ternyata pada hari itu dirinya memakai baju merah, dia lari dengan sekencang-kencangnya ketika ia mendapatkan orang tuanya baru dia berhenti hampir dia mati. Setelah dia sadar dan ditanya kenapa lari, ia berkata bahwa dia lari karena dikejar manusia satu kampung dan mau dibunuh,” tambahnya.
