Sementara itu, pemerhati budaya Tolaki, La Ode Akbar (48), menjelaskan Lulo tidak hanya berfungsi sebagai hiburan dalam kegiatan masyarakat. Tarian tersebut mengandung nilai sosial yang tercermin melalui gerakan dan keterlibatan para peserta.
Menurutnya, formasi lingkaran dalam tarian Lulo menggambarkan hubungan antarmasyarakat yang dibangun melalui kebersamaan. Setiap peserta memiliki posisi dalam lingkaran dan mengikuti gerakan yang sama.
"Lulo itu mengajarkan kebersamaan. Ketika orang sudah masuk dalam lingkaran, semuanya ikut bergerak bersama. Tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Nilai seperti inilah yang harus terus dipertahankan," tuturnya.
Ia mengatakan, pelaksanaan Molulo Kolosal yang melibatkan 2.535 orang merupakan bagian dari perjalanan budaya masyarakat Tolaki yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, pengenalan budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Anak-anak dan generasi muda juga perlu mendapat pemahaman mengenai sejarah, tata cara, serta nilai yang terkandung dalam tarian tradisional tersebut.
