Oleh: Dr. M. Najib Husain
Dosen FISIP UHO
JIKA di masa sebelum era reformasi, sebagaimana pemikiran Clifford Geertz, adanya kelompok aliran abangan, santri dan priyayi di masyarakat melahirkan simbolisme representasi konstituensi partai politik, yakni santri lebih dekat dengan PPP, abangan dan priyayi pada PDI dan Golkar.
Kini batas-batas simbolik pembeda rumus konstituensi di kalangan partai politik semakin kabur. Jika dulu sangat gampang menebak warga yang berkopiah dan bersarung di even Pemilu akan memilih partai apa, kini semakin susah ditebak kemana arah aspirasi politiknya para pemilih.
Mencairnya simbolisme konstituensi ideologis dan makin dominannya pendekatan pragmatis transaksional para elite dan aktivis partai terhadap para pemilih telah menciptakan karakter pemilih pragmatis atau konstituensi pragmatis.
