Sejalan dengan Pareto, Gaetano Mosca, seorang teoritis elit lainnya, mengatakan bahwa tiap masyarakat, entah suatu bangsa baru atau sudah lama merdeka, besar atau kecil, selalu membentuk dua kelas utama yang memimpin (aclass thatrules) dan yang dipimpin (a class thatis ruled).
Realitas politik yang berkembang di Indonesia, Sulawesi Tenggara secara mikro, terutama dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah, stabilitas politik partai politik dibangun berdasarkan struktur tidak berimbang yakni ”struktur dominasi” oleh pusat termasuk saat ini yang terjadi di tubuh PPP Sultra.
Seorang Abdul Rasyid Syawal yang terpilih secara aklamasi oleh DPC se-Sultra dalam sebuah hasil Musyawarah Wilayah (Muswil) PPP IX di Kendari, dan hasilnya telah digodok oleh 7 formatur dan disepakati untuk tetap mengusulkan Abdul Rasyid Syawal yang didukung oleh DPC pada Muswil, namun yang mendapatkan pengakuan dari DPP PPP adalah Marsekal Muda TNI (Purn) Barhim yang bukan kader partai dan mendapatkan SK dari DPP.
Walaupun dalam aturan organisasi PPP telah diatur bahwa nama yang diusulkan oleh formatur Muswil tidak otomatis diterima oleh DPP.
Namun, sebuah partai Islam “membegal” ketua terpilih hasil Muswil adalah sebuah hal yang sangat disayangkan dan sudah melanggar etika organisasi.
