Ia mengaku memilih Naylan Siti Nabila karena memiliki keahlian dalam bidang IT, sedangkan untuk Waode Erytrina Desvia Molabina memiliki keahlian dalam hal melakukan presentasi.
"Kalau saya sendiri sebagai penyempurna, misalnya memberikan ide, masukan-masukan untuk presentasi bagaimana, jadi masing-masing kami memiliki tugas," ujarnya.
Tempat sama, Naylan Siti Nabila mengaku, dalam proses LKTI sempat mengalami kendala, yakni kekurangan fasilitas berupa destilasi, tapi setelah melakukan konsultasi dengan pembimbing akhirnya ditemukan cara sederhana untuk mengatasi kendala itu.
Baca Juga: Undip Raih Juara Utama Debat Penegakan Hukum Pemilu Perguruan Tinggi se-Indonesia ke-2
Kemudian kendala yang paling besar kata dia, dalam pembuatan KTI yaitu menemukan ide, karena ide yang didapatkan harus relevan dan dampaknya besar.
