Rakyat tidak meragukan kepemimpinan Presiden Prabowo. Sayangnya, Presiden Prabowo begitu mempercayai para pembantunya di kabinet yang lebih menggambarkan sikap dalam menyampaikan informasi maupun hasil kerjanya sekadar ABS alias ‘Asal Bapak Senang’. Di tengah kondisi tersebut, Presiden Prabowo juga tidak mengasah kepekaan dirinya atas kondisi negara saat ini.

Akibat kondisi Perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran tak dimungkiri memungkinkan akan dapat menyebabkan dampak terhadap permasalahan krisis di Indonesia. Pola perilaku pasar dari para produsen turut menyumbang kondisi kekhawatiran publik, memungkinkan akan terjadi permainan pasar untuk menghadirkan kesan adanya kelangkaan terhadap Minyak Goreng misalnya.

Kondisi saat ini saja, sebenarnya perlu adanya upaya menghadirkan kestabilan harga dengan penerapan operasi pasar, sebab di Pasar Tradisional harga-harga sudah bergerak mengalami kenaikan perlahan namun meninggi. Kondisi ekonomi yang terjadi saat ini, kemungkinan dihadirkan sebagai upaya meningkatkan kepanikan masyarakat.

Kondisi ini tak bisa diabaikan oleh pemerintah. Oleh sebab itu, semestinya dalam kondisi saat ini, Pemerintah telah mempersiapkan diri untuk menghadapi krisis ekonomi. Krisis ekonomi ini keterkaitan dengan kondisi mancanegara yang sedang tidak ‘baik-baik saja’, sehingga ditenggarai dapat merembes dan berdampak terhadap kondisi di Indonesia.

Baca Juga: Ketidakakuratan Kondisi Ekonomi