Selama kuliah, Sarlin tetap meneruskan pekerjaan sebagai penganyam. Ia bahkan  mendapatkan bantuan dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS).  

Ia lalu membentuk  kelompok dan memulai usaha kerajinan yang lebih serius, melakukan promosi dan penjualan.

“Awalnya promosi dari mulut ke mulut. Lalu saya pakai sistem titip di penjual kaos kaki yang sering mengunjungi kantor-kantor pemerintah. Eh ternyata ada saja yang tertarik dan mulai memesan," kisahnya.

Tapi ternyata mekanisme pasar tidak selalu menjanjikan. Meskipun banyak yang tertarik, namun angka penjualan sangat sedikit. Di tahun 2009-2013, bisnis Nentunya jalan di tempat. Alasan lain, kosentrasi Sarlin tidak hanya pada membesarkan usaha, ia juga harus memikirkan hal lain.  

Ia kembali fokus pada bisnis Nentu pasca kuliah. Langkah pertama yang diambilnya adalah merekrut tenaga kerja untuk menaikkan jumlah produk. Ini juga untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah pesanan. Langkah ini ternyata efektif.