Solusi yang ia maksudkan adalah menyusun nota kesepahaman dengan pemerintah, di mana nota kesepahaman itu mengatur tentang suplai produk.

“Paling penting adalah mengatur para pengrajin, meningkatkan kapasitas mereka, menampung hasil produk mereka dan saat ada permintaan ekspor kita sudah punya produknya," jelasnya.

Mekanisme ini akan menguntungkan banyak pihak; para pengrajin yang tak bingung karena produk selalu tersedia dan modal yang leluasa, serta para konsumen yang bisa mendapatkan produk sesuai permintaan mereka.  

Hasil anyaman Nentu yang dipamerkan Sarlin di stand Dekranasda Kota Kendari. Foto: Sumarlin/Telisik

 

Inovasi terus menerus. Ini prinsip yang diterapkan Sarlin. Saat ini ia telah memiliki sekitar 30 model anyaman Nentu, mulai dari  tatakan gelas, nampan, tas dan tudung saji, yang dijual dengan dengan harga  bervariasi mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 1,5 juta.