Ia menjelaskan, manusia yang hidup pada masa itu sudah termasuk manusia modern, meskipun masih tinggal di gua dan belum menetap di rumah seperti masyarakat sekarang.

"Walaupun zamannya masih purba, manusianya sudah manusia modern. Tapi tinggalnya masih di dalam gua," jelasnya.

Pada masa awal penggunaannya, Kaghati Kolope menjadi sarana hiburan masyarakat. Layang-layang tersebut juga disebut membantu aktivitas menangkap ikan, terutama bagi para nelayan.

Memasuki sekitar abad ke-10, penggunaannya berkembang dalam kegiatan adat masyarakat Muna. Layang-layang diterbangkan sebagai penanda kepada warga sekitar bahwa suatu tempat sedang mengadakan pesta atau kegiatan adat.

Namun, salah satu tradisi yang memiliki makna khusus berkaitan dengan upacara kematian. Agung menjelaskan, keluarga yang berduka menerbangkan Kaghati Kolope selama tujuh hari berturut-turut tanpa menurunkannya. Layang-layang itu tetap dijaga agar berada di udara, termasuk pada malam hari.