Setelah tujuh hari sejak seseorang meninggal dunia, tali layang-layang dipotong sehingga layang-layang tersebut dibiarkan terbang bebas.
"Di situ filosofinya kenapa dibiarkan seperti itu, jadi layang-layang ini dianggap sebagai pengawal roh orang yang meninggal untuk menuju ke alam baka pada masa itu," jelasnya.
Tradisi tersebut mencerminkan kepercayaan masyarakat pada masa itu terhadap perjalanan roh setelah kematian. Dalam pemahaman yang disampaikan Agung, layang-layang dipandang sebagai pengawal roh menuju alam baka.
Hingga kini, Kaghati Kolope masih diterbangkan dalam festival layang-layang. Ketika berada di udara, layang-layang ini mengeluarkan bunyi dengung yang keras dan menjadi salah satu ciri khasnya.
Agung menyebut masyarakat yang pertama kali menggunakan Kaghati Kolope berasal dari kawasan Liang Kobori. Ia juga menjelaskan bahwa jejak kehidupan prasejarah di Sulawesi ditemukan di Liang Kobori, Pulau Muna, serta Leang-Leang di Maros, Sulawesi Selatan. Menurutnya, gambar layang-layang ditemukan di gua di Muna.
