KENDARI, TELISIK.ID – Bayang-bayang masa gelap ekonomi dunia tahun 2023 terus menghantui. Setiap negara bergerak untuk mengantisipasi dampak pahit resesi global akibat perang geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Indikiator ekonomi yang paling menjadi perhatian pemerintah Indonesia saat terjadi resesi tahun depan adalah inflasi. Perang Rusia dan Ukraina, sebagai negara penghasil pangan dan energi terbesar, mengancam ketahanan pangan negara lain sebagai pengimpor, dengan begitu diperkirakan inflasi pangan dan energi besar-besaran seluruh dunia akan terjadi.

Menanggapi risiko besar inflasi, Presiden Joko Widodo mengimbau Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang terdiri dari berbagai instansi perangkat pusat dan daerah, Badan Pusat Statistik (BPS) dan perbankan, melaksanakan program kerja yang lebih berdampak demi memastikan perekonomian bangsa tetap terjaga dan terus tumbuh, salah satunya dengan melakukan Gerakan Nasional Pengandalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Di Provinsi Sulawesi Tenggara, Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara dalam press releasenya menyebut tingkat inflasi sampai bulan September 2022 tercatat naik cukup signifikan sebesar 5,89 persen (yoy). Sedangkan kenaikan inflasi di bulan September adalah 0,42 persen (mtm).

Baca Juga: Hadapi Resesi Global, DPR Minta Pemerintah Prioritaskan UMKM