Keluarga Jokowi, seperti Gibran Rakabuming Raka yang sekarang sebagai wakil presiden, maupun Kaesang Pangarep yang merupakan Ketua Umum PSI, ditenggarai memahami pasca Ayahnya tidak lagi menjabat sebagai presiden, berbagai persoalan mengemuka di publik yang mendera pribadi Jokowi, Gibran, maupun keluarga besarnya.  

Seperti polemik keabsahan ijazah mendera Jokowi dan Gibran, beberapa kasus korupsi yang sedang diperoses terhadap beberapa menteri di era Jokowi turut menyeret nama Jokowi, begitu juga dengan kasus korupsi proyek pembangunan jalan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sumatra Utara telah menyeret nama Bobby Nasution menantunya Jokowi yang menjabat sebagai Gubernur Sumatra Utara.

Merecoki dan Cara Instan sebagai Pilihan

PSI diyakini mempelajari upayanya membangun partai politik yang mandiri, berkualitas, dan menjauhkan pragmatisme, rasanya adalah pekerjaan yang sia-sia. Berpolitik dengan nilai, mengupayakan program kerja, maupun mendorong pendidikan politik warga/pemilih seakan menjadi pekerjaan yang sia-sia.  

Awalnya PSI mencoba hadir dengan gagasan, sayangnya dua kali ikut pemilu tetapi PSI tidak mendapatkan hasil memuaskan. Memasuki tahun ketiga Pemilu, PSI memilih pragmatisme politik yang luar biasa, dengan mengkultuskan Jokowi sebagai “ideologi” partainya.