Jokowi juga seolah dijadikan ‘pelindung’ dari politisi-politisi PSI yang tidak becus bekerja di kabinet, sehingga lolos dari ancaman reshuffle. Serta ditenggarai dengan adanya beberapa politisi PSI di kabinet, maka laju kehidupan PSI juga akan dapat terbantu yakni dari segi popularitas, jejaring, maupun pendanaan misalnya.

Di sisi lain, ditenggarai PSI mengambil cara instan dengan ‘membajak’ politisi partai-partai politik lainnya yang kuat pengaruh di daerah untuk membelot dan membesarkan PSI. Tanpa ‘kader-kader’ instan yang berlabel ‘kutu loncat,’ harus diakui PSI khawatir akan kembali terulang tidak lolos ke Senayan.

Pengalaman Partai Nasdem yang mengedepankan politisi ‘kutu loncat,’ sehingga dapat lolos ke Senayan, strategi politik meng-copy dari Nasdem inilah yang sedang dijalankankan oleh PSI. PSI bukan sekadar meng-copy Nasdem, tetapi juga ‘mengeroposi’ Nasdem utamanya di Sulawesi Selatan, agar dapat menjadikan Makassar sebagai kandang Gajah.

PSI telah memilih sikap pragmatis, sehingga partai ini tidak lagi berbicara gagasan, maupun pendidikan politik bagi masyarakat. PSI dan Jokowi beserta keluarganya ditenggarai sama-sama saling membutuhkan. PSI berharap dengan adanya Jokowi dan keluarganya pada Pemilu 2029 maka partai ini bisa lolos ke Senayan, sedangkan Jokowi dan keluarganya berharap dengan bersama PSI berbagai permasalahan yang membelit mereka secara personal maupun kasus hukum akan mandek karena alasan masih adanya daya tawar politik. 

Blunder dan Dinamika Konflik