Karena itu, peristiwa-peristiwa sebelumnya baru terungkap setelah kondisi fisik MA mulai menunjukkan gejala sakit atau trauma akibat perlakuan teman sekelasnya.

“Pertama kali anak saya dibully saat kelas 1. Ia diajak sengel (berduel) oleh teman sekelasnya. Saya sempat menghubungi kepala sekolah melalui pesan dan telepon, karena saat itu saya berada di luar negeri (Malaysia),” katanya kepada telisik.i, Minggu (27/7/2025).

Kejadian kedua membuat MA mengalami demam tinggi dan salah urat. Ketika ditanya oleh keluarga apakah ia terjatuh di sekolah, MA akhirnya mengaku menjadi korban perundungan.

Keluarga pun mencoba menyelesaikan secara kekeluargaan dengan menemui orang tua rekan sekelas MA. Namun, menurut Ratna, tidak ada respons positif maupun efek jera dari pihak keluarga pelaku.

“Waktu kejadian kedua, anak saya sempat sakit dan demam. Kami tanya pelan-pelan, baru ia mengaku dibully lagi. Tapi saat keluarga bertemu orang tua pelaku, tidak ada respons,” lanjut Ratna.