Bumi sebagai lingkungan hidup adalah ekosistem yang memerlukan pemuliaan demi kepentingan hidup itu sendiri. Bumi tidak sekadar untuk dieksploitasi oleh nilai-nilai ekonomi yang dibawa oleh perilaku kapitalistik pada pemodal besar.
Perilaku serupa ini, bahkan mungkin tanpa sadar sudah merasuki masyarakat pemilik tanah, sehinga lebih gampang terjebak dalam konsumerisme ketimbang mahkluk yang tahu tentang masa depan antara lain berciri “saving” yang kental. “Saving” itu bukan sekadar menabung uang, tapi juga menyelaraskan bumi (tanah) hingga benar-benar menjadi sebuah ekosistem.
Pemuliaan atas tanah sebagai suatu ekosistem bukanlah dengan suatu tindakan besar-besaran oleh para pemodal besar yang cenderung eksploitatif. Pemuliaan atas lingkungan selain dibangun oleh kepedulian terhadap pentingnya pertumbuhan ekonomi, pada saat yang sama juga sangat mempertimbangkan nilai-nilai sosial dan sebagai lingkungan hidup sehingga masyarakat pemilih tanah semula tidak tergerus pemiskinan.
Dengan begitu, tanah akan memberikan nilai-nilainya bagi kelangsungan hidup si pemilik yang merupakan bagian dari suatu masyarakat dalam lingkungan hidup yang beretika sekaligus berkekuatan sosial dan ekonomi.
Pilihlah yang terpelihara. Sebab, itu jauh lebih arif dalam menyikapi kedatangan masa depan ketimbang menjadi instanisme untuk sekadar hidup nan hedon! (*)
